Sabtu, 22 Februari 2014

Karo di Simpang Rambutan

Karo merupakan salah satu suku asli yang mendiami dataran tinggi Karo (pegunungan Bukit Barisan), eks Kresidenan Sumatera Timur, dan beberapa wilayah di Nangro Aceh Darusalam(NAD). Suku ini juga dijadikan nama salah satu kabupaten di Sumatera Utara, yakni: Kabupaten Karo. Daerah domisili dominan suku Karo disebut Taneh Karo Simalem yang tersebar di daerah-daerah di wilayah yang disebutkan tadi di atas. Dalam perkembangannya, suku ini kini dikenal sebagai salah satu suku terbesar di Sumatera Utara dengan populasi diperkirakan sekitar 3 juta jiwa yang tersebar di seluruh nusantara dan bahkan dunia.

Suku Karo dikenal dari merga(marga)–nya, yakni: Merga Silima (1. Karo-karo, 2. Ginting, 3. Tarigan, 4. Sembiring, dan 5. Peranginangin) serta cabang dan ranting dari masing-masing merga itu. Suku Karo walau terkesan pendiam, pemalu, dan tertutup, namun suka bertualang, sehingga keberadaanya dapat diidentifikasi di hampir semua wilayah nusantara, tak terkecuali di Provinsi Jambi.

Kali ini penulis hendak bercerita tentang keberadaan suku Karo di salah satu daerah di Provinsi Jambi, yakni di Simpang Rambutan. Simpang Rambutan terletak di Desa Suban, Kecamatan Batang Asam, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Letaknya sekitar Km. 168 – 172 di Jalan Lintas Timur Sumatera yang meghubungkan antara Provinsi Jambi dengan Provinsi Riau. Diyakini, dulunya Simpang Rambutan ini dirintis oleh Layari Barus yang lebih dikenal dengan sebutan Pak Agus ataupun Datuk Barus Tua(hal ini dikukuhkan dalam acara Gendang Guro-guro Aron masyarakat Karo Suban di tahun 2011). Beliau adalah seorang pendatang Karo dari Deli Serdang, Sumatera Utara.

Simpang Rambutan merupakan perpaduan antara kawasan permukiman penduduk, perdagangan, dan lahan pertanian(khususnya perkebunan kelapa sawit). Adapun etnis domina di daerah ini adalah etnis Karo, Jawa, Batak, dan Melayu serta dari etnis-etnis lainnya di nusantara seperti Bugis, Flores, Banjar, dlsb.

Keberadaan Suku Karo di Simpang Rambutan sudah diyakini ada sejak awal permulaan pembukaan kawasan ini, walau tidak ada data pasti kapan. Namun, setidaknya permukiman Karo di Simpang Rambutan sudah ada sekitar tahun 1996. Penulis mencatat tiga gelombang migrasi suku Karo ke daerah ini, yakni gelombang pertama sebelum era reformasi, sebelum tahun 1996. Gelombang pertama ini penulis menyebutnya gelombang pemula(perintis), belum ramai dan hanya beberapa keluarga yang masih ada hubungan dengan Layari Barus sebagai perintis.

Meletusnya reformasi di tahun 1998 yang berakibat terjadina perubahan signifikan di semua sektor di negeri ini, yang beberapa efek negatifnya kala itu terjadinya kerusuhan di mana-mana khususnya perkotaan serta kerisis moneter, memaksa masyarakat Karo yang selama ini berspekulasi dalam usaha pertania dan perdagangan tentunya terkena imbas melemahnya ekonomi, sehingga harus mencari alternatif untuk menyokong usaha dan ekonominya, yang salah satunya mencari lahan-lahan baru yang lebih luas dan dengan beaya kerja yang lebih murah. Simpang Rambutan yang kala itu sekitar 1998 masih kawasan permukiman kecil yang dikelilingi hutan dan letaknya yang strategis di pinggir Jalan Lintas Timur Sumatera menjadi sasaran empuk kaum migran Karo, baik dari Sumatera dan Jawa. Pada gelombang kedua ini juga masih belum ramai. Sebab, masih banyak orang Karo kala itu yang membeli lahan, namun belum mengolahnya(hanya sebagai stok dan investasi). 

Namun, memasuki tahun 2000 gelombang migrasi besar-besaran terjadi, bukan hanya dari etnis Karo, tetapi juga Jawa, dan Batak. Serta puncaknya sekitar tahun 2004 – 2008. Untuk masyarakat dari etnis Karo sendiri, bukan hanya dari Deli Serdang dan Kota Medan yang selama ini asal pendatang ke Simpang Rambutan, akan tetapi pada gelombang ketiga ini juga terjadi migrasi dari suku Karo yang cukup besar ke Simpang Rambuta dari daerah Binjai dan Langkat, bahkan dengan beberapa bencana dan wabah tanaman membuat masyarakat Karo dari dataran tinggi Karo juga ikut mencoba peruntungan di Simpang Rambutan, serta beberapa diantaranya juga dari Pulau Jawa. 

Sekarag Simpang Rambutan berkembang pesat, bukan hanya tempat perantauan bagai masyarakat Karo, Jawa, dan Batak, tetapi semua suku banggsa di nusantara. Bukan lagi hanya lahan perkebuanan, namun juga berkembang menjadi kawasan permukiman dan perdagangan, dan tidak tertutup kemungkinan juga nantinya berkembang sebagai kawasan industri.

2 komentar:

  1. Dulunya (sebelum 1999), Suban - Simpang Rambutan masuk dalam kecamatan Tungkal Ulu, Kab. Tanjung Jabung. Di tahun 1999 terjadi penataan wilayah tingkat II Tanjung Jabung yang kemudian dimekarkan menjadi Kabupaten Tanjung Jabung Barat(TANJAB-BAR) dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur (TANJAB-TIM), dan kalau tidak saya salah itu masa kepemimpinan bupati SELAMAT BARUS yang juga seorang KARO dari Karo Jahe(Deli Serdang). Sekarang, Suban-Simpang Rambutan masuk dalam Kecamatan Batang Asam, Kab. Tanjung Jabung Barat.

    Gelombang migrasi Karo ke Simpang Rambutan sangat dipengaruhi oleh jaringan kekeluargaan, sehingga informasi tentang lokasi ini sangat pesat menyebar. Mejuah-juah.

    BalasHapus
  2. Perlu dicatat juga. AHMAD BARUS II yang dikenal sebagai PADUKO DATOK BERHALO juga memakai merga/marga BARUS, yang merupakan cabang(sub-/bagian-) dari merga KARO-KARO - BARUS. Apakah AHMAD BARUS II ini yang merupakan leluhur Kesultanan Melayu Jambi adalah seorang Karo. Ingat, Kawasan Tanjung Jabung ini eks pengaruh JOHOR dan perlu diingat kalau hubungan JOHOR dan KARO/ARU/HARU dulu sangat baik, jadi, sangat mungkin jika ada pengembara asal Karo ke wilayah pengaruh JOHOR. Semoga bermanfaat. :D

    BalasHapus